Jumat, 01 Juni 2012
Poker is my game
Agustus 2001"Oke semuanya, pasang taruhannya."
Kalimat itu membawa Dedi kembali ke malam tahun baru saat ia masih di SMA. Dibiarkannya pikirannya melayang, mengacaukan konsentrasinya pada permainan yang tengah berlangsung.
Malam Tahun Baru - Desember 1997
"Oke, Dedi. Pasang taruhanmu."
Dedi menoleh dari kartu-kartu di tangannya ke arah Icha yang duduk di depannya. Teman-teman mereka sudah terkapar akibat terlalu banyak minum. Tubuh-tubuh mereka tersebar di setiap penjuru ruangan. Tinggal Dedi dan Icha berdua yang masih bertahan. Melihat senyum penuh percaya diri yang terukir di wajah Icha, Dedi tahu bahwa Icha yakin sekali kartunya akan menang. Tapi bukan Dedi namanya kalau menyerah sebelum bertanding.
"Bagaimana kalau kita buat permainan ini jadi sedikit lebih menarik?"
"Kau ada ide?" Icha mengangkat gelas birnya dan meminumnya sedikit.
Sejak tadi, Icha dan Dedi memang menahan diri mereka untuk tidak minum terlalu banyak. Namun sedikit banyak pengaruh alkohol mulai mempengaruhi mereka berdua.
"Aku mau lihat seberapa jauh kau berani." Dedi melempar dompetnya ke atas meja.
"Kita naikkan taruhan kita, menjadi... satu ciuman."
"Ciuman?" Alis Icha terangkat dan ia menyeringai. "Denganmu?"
"Yaaa, terserah padamu jika kau lebih suka nyepok anak-anak lain yang sudah pada teler, tetapi kupikir mungkin kau lebih suka melakukannya dengan.... sukarelawan."
"Kau mau jadi sukarelawan? Menciumku?"
Dedi meringis, sadar kalau tertangkap basah.
Icha mempertimbangkan sejenak tantangan Dedi.
"Okelah, Dedi. Kau pikir kau bakal menang? Baik, kita lihat nanti keahlianmu mencium gadis. Dan kunaikkan lagi taruhannya."
"Aah..." Seringai Dedi melebar.
"Kunaikkan menjadi..." Icha berhenti sebentar, melirik sebentar kartunya kemudian pandangannya kembali ke wajah Dedi, dan melanjutkan, "Raba-rabaan."
Dedi berpura-pura gemetar ketakutan.
"Maksudmu, aku kau izinkan meraba tubuhmu? Di balik bajumu? Di luar beha? Atau di dalam beha?"
"Bagus, sekarang kau membuatnya jadi terdengar menyeramkan."
"Lho, aku kan cuma menggambarkan detilnya."
Icha menoleh ke arah Ronald yang sedang telentang tidak sadar di sofa dengan botol bir yang kosong di tangannya.
"Pokoknya siapa pun yang menang dia yang akan menentukan bagaimana nantinya."
"Oh, jadi... misalkan aku yang menang," Dedi meletakkan kartu-kartunya dalam keadaan tertutup di atas meja dan mengangkat gelasnya.
Tanpa melepaskan tatapannya pada Icha, ia meminum seteguk.
"Jika kubuka kartuku, dan ternyata aku yang menang, aku boleh pilih bagian tubuh mana yang ingin kuraba?" rasa kurang percaya mewarnai suaranya.
"Marisa Haryanto, putri es dari Bandung, akan membiarkan jari-jariku menyelip ke balik beha-nya?"
"Itu kan kalau kau yang menang." Icha mengangguk dengan yakin dan membuat Dedi jadi penasaran, sudah berapa banyak Icha minum dan sudah seberapa mabukkah ia.
"Kalo aku yang menang..."
"Mmm hmm?"
"Kulakukan dengan caraku sendiri."
"Terserah kau." Dedi mengangkat bahu dan mengambil kembali kartu-kartunya dari atas meja. "Kau siap? Buka."
Agustus 2001
"Dedi? Hey, apa yang sedang kaulamunkan? Bangunlah!"
Dedi tersadar dari lamunannya dan mengembalikan perhatiannya ke permainan yang sedang berlangsung.
"Aku pusing nih. Cukuplah untukku malam ini."
"Lho? Kau mau ke mana?"
Dedi segera menghabiskan minumannya dan meletakkan kartu-kartunya. "Pulang."
"Dedi!"
"Yuk, aku duluan."
Malam Tahun Baru - Desember 1997
Icha menempelkan kartunya di bibirnya sambil memperhatikan Dedi ketika Dedi membuka kelima kartunya. Empat kartu as. Ia menyeringai lebar kepada Icha.
"Ayo, Icha. Kau mau ke tempat yang lebih... 'private'? Atau kau lebih suka melakukannya sekarang di sini?"
Icha menggigit bibir bawahnya, salah satu kebiasaan khususnya yang membuat Dedi jungkir balik dilanda cinta tak berbalas. Lidah Icha terjulur membasahi bibirnya. Ia membuka kelima kartunya satu per satu.
"Delapan hearts. Sembilan hearts. Sepuluh hearts. Jack hearts. Queen hearts. Apa yang barusan kau bilang tadi?"
"Aargh!" Dedi mengerang sementara Icha tersenyum penuh kemenangan.
"Sialan kau! Sejak kapan kau pandai bermain poker?"
Icha bangkit dan merentangkan tangannya untuk melemaskan otot-ototnya. Kelenturan tubuhnya membakar setiap penghujung syaraf Dedi.
"Seingatku kau yang mengajariku dulu. Kau kan paling hobi mengajariku segala macam yang tak ada gunanya."
Dedi ikut berdiri, kegugupannya membuat nafasnya sedikit tersengal.
"Jadi... taruhan yang tadi?"
Icha mengangguk dan meraih tangan Dedi. Dedi mengikutinya ke kamar mandi. Setelah mereka berdua masuk, Icha mengunci pintu kamar mandi dan kemudian berbalik menghadap wajah Dedi.
"Bisakah kau mulai dengan menciumku dulu?"
Icha melingkarkan tangannya di bahu pemuda itu dan mendorongnya ke tepi bak mandi. Bibirnya melayang di dekat bibir Dedi, menggodanya. Dedi sekali ini tidak mampu berkata-kata.
"Icha?"
"Dedi, tidak bisakah kau diam untuk sekali ini saja?"
Icha bergerak maju dan Dedi segera menciumnya. Lidah mereka bergerak bersama. Dedi menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Icha dan membiarkan lidahnya bergerak di dalamnya, menjilat dan mengecap setiap permukaan di bagian dalam mulut Icha. Icha menahan lidah pemuda itu dengan giginya, dan menghisapnya dengan lembut sebelum melepaskannya. Sebuah ciuman sudah terbayar, namun Icha bergerak maju kembali, kali ini untuk melancarkan beberapa ciuman berturut-turut, setiap ciuman lebih panas dan bergairah daripada ciuman sebelumnya.
"Setengah dari hutangmu sudah kau bayar. Masih ada sisa setengah lagi."
Icha sebenarnya sudah tahu ia akan memenangkan permainan tersebut ketika menerima tantangan Dedi, dan sudah merencanakannya hal ini sejak tadi. Ia tahu Dedi menginginkan dirinya, dan bercinta dengan Dedi adalah salah satu hal yang ingin dicobanya. Icha selama ini hanya bercinta dengan Ronald, tetapi ia sering membayangkan bagaimana rasanya jika ia melakukannya dengan Dedi.
"Kita selesaikan sekaligus saja." Dedi berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Aku paling tidak suka berhutang terlalu lama."
Icha mengangguk. "Setuju. Aku pun menolak menerima cicilan."
Tangan Icha meraih pinggang Dedi dan menarik keluar ujung-ujung kemeja Dedi dari pinggang celananya. Dedi sebenarnya masih belum sempat memikirkan bagian mana dari tubuhnya yang akan diraba oleh Icha, namun tubuhnya sudah bereaksi mendahului pikirannya. Icha tersenyum melihat tonjolan di depan celana Dedi, tahu bahwa kemaluan pemuda itu sudah mengeras di balik celananya akibat ciuman-ciuman yang ia lancarkan kepadanya tadi. Dan kini tonjolan itu semakin membesar menantikan sentuhannya tangannya.
Tangan Icha bergerak membuka kancing dan ritsluiting celana Dedi, kemudian menariknya turun sekaligus beserta celana dalamnya sampai sebatas pahanya. Pandangan Icha terpaku pada kemaluan Dedi yang kini berdiri tegak dan keras sepanjang 14 sentimeter. Dedi tahu bahwa Icha sedang membandingkan dirinya dengan Ronald, dan ini membuatnya merasa agak malu karena ia tahu Ronald memiliki ukuran penis beberapa sentimeter lebih panjang darinya.
Icha mengerti kekhawatiran Dedi dan tersenyum padanya.
"Hmm, paling tidak kau memang punya cukup modal untuk taruhan."
Digenggamnya batang kemaluan Dedi dengan tangannya, diusapnya dengan satu gerakan yang lembut dan perlahan. Dedi mendesah nikmat dan memejamkan matanya, sementara tangan Icha terus bergerak naik turun di sepanjang batang kemaluannya. Tangan Dedi mencekal sekuat-kuatnya pada tepi bak mandi, menahan keinginannya untuk menyentuh Icha. Ia tidak ingin sampai dirinya berbuat terlalu jauh terhadap Icha, sebab Icha masih kekasih sahabatnya sendiri.
"Dedi?" Icha masih berbisik.
Ia mulai merasa ragu apakah akan meneruskan permainan ini atau tidak.
"Kau tidak mau...?"
Dedi memaksakan diri menatap wajah Icha.
"Icha, perjanjian kita hanya..."
Tangan Icha berhenti bergerak dan dengan lembut diusapkannya ibu jarinya pada lekukan kecil di ujung penis Dedi, menimbulkan desiran kenikmatan yang hampir tak tertahankan.
Dedi mengerang dan melepaskan cekalannya pada tepi bak mandi, kemudian meraih kedua payudara Icha. Kedua puting susu Icha sudah mengeras, agak menonjol di balik baju kaosnya yang tipis. Diusapnya dengan jari-jarinya kemudian dicondongkannya kepalanya dan dimasukkannya puting susunya yang masih terbungkus pakaian itu ke dalam mulutnya. Permukaan pakaiannya yang agak kasar terasa amat merangsang saat lidah Dedi menari-nari di atasnya. Kemudian Dedi menarik pakaian Icha ke atas dan melepaskannya dari tubuhnya.
Tidak ingin menunggu lama lagi, Dedi melepaskan sekaligus bra-nya, kemudian dibiarkannya tangannya menjelajahi kedua gundukan di dada Icha yang selembut sutra. Tangan Icha kembali berada di selangkangan Dedi, mengusap batang kemaluannya ke atas dan ke bawah sedikit lebih cepat daripada sebelumnya sementara Dedi menciumi leher Icha dan meremas kedua payudara 34C-nya.
Dedi menjauhkan bibirnya dari leher Icha yang kini basah oleh ciuman dan hisapannya. Nafasnya memburu. Diraihnya tangan Icha untuk menghentikan gerakannya.
"Icha. Kita tidak bisa..."
Icha menarik tangannya dari genggaman Dedi. Matanya melebar, terkejut setelah baru saja menyadari bahwa mereka sudah berbuat terlalu jauh.
"Maafkan. Aku..." Icha berhenti berbicara dan kembali melancarkan ciuman-ciuman ganas pada bibir Dedi.
Dedi melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Icha, memeluknya. Diangkatnya tubuh Icha dan memutar, dan kini giliran Icha yang menyandar pada tepi bak mandi.
Icha mendorong Dedi menjauhinya dan memandang wajah pemuda itu dengan penuh nafsu. Kemudian ia melepaskan kancing celana jeansnya dan menurunkannya sekaligus bersama celana dalamnya. Dedi tidak mampu berpikir atau menahan diri lagi. Diangkatnya tubuh Icha dan didudukkannya pada tepi bak mandi, dan ia menyelipkan tubuhnya di antara kedua kaki Icha. Penisnya yang tegang bersentuhan dengan bibir kemaluan Icha. Namun ia berhenti lagi, masih penuh keraguan akan apa yang mereka lakukan.
Icha menggigit pundak Dedi dan mendorong pinggulnya ke depan dengan tidak sabar. Dedi mengerang, mengakui kekalahannya dan membiarkan kemaluannya memasuki lubang vagina Icha. Ia mendorong pinggulnya ke depan, membiarkan keseluruhan batang penisnya masuk sedalam-dalamnya. Mereka berdua bergerak bersama-sama, memompa keluar masuk dengan penuh nafsu dan terburu-buru.
Kaki Icha melingkari pinggang Dedi dan ia mempercepat gerakannya, merasakan dirinya hampir mencapai orgasme. Gerakan Icha semakin cepat sampai akhirnya Dedi kehilangan kendalinya dan menyerah. Digigitnya pundak Icha saat puncak kenikmatan menyerangnya, menahan dirinya untuk tidak berteriak dan membangunkan teman-teman mereka di luar. Semprotan cairan mani dalam vaginanya membuat Icha serasa melayang tinggi melewati puncak kenikmatan. Icha menggigit bibirnya. Otot-otot vaginanya mengencang saat gelombang orgasme melanda dirinya.
Mereka berhenti bersamaan, saling menghindari tatapan mata masing-masing. Dedi mengusap perlahan bekas gigitannya pada pundak Icha.
Icha menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa kok, sebentar juga akan hilang."
Dedi melepaskan diri dari pelukan Icha dan mundur perlahan, masih belum berani menghadapi tatapan mata Icha.
"Aku mau mandi." Icha memungut pakaiannya dari lantai kamar mandi yang setengah kering. "Kau mau ikut?"
"Sebaiknya tidak. Kau masih pacarnya Ronald."
"Dedi?" Icha menggantungkan pakaiannya di balik pintu kamar mandi. "Kau selalu saja membantahku. Apa salahnya sih sekali-sekali setuju denganku?"
Agustus 2001
"Katamu kau ke tempat Ronald bermain kartu. Kenapa ada di sini?"
"Aku berhenti bermain. Sudah kalah terlalu banyak malam ini."
"Masa sih?"
Dedi mengangguk dan menyodorkan sebungkus martabak manis keju kacang kepada Icha.
"Kurang bisa konsentrasi."
"Siapa yang menang malam ini?"
"Ronald."
"Makin pintar dia sekarang?"
Dedi dan Icha sudah memberitahu Ronald tentang kejadian pada malam tahun baru tersebut. Ketika itu Icha sudah putus dengan Ronald. Karena semuanya bermula dari permainan poker, Ronald menantang Dedi bermain poker untuk menentukan nasib mereka selanjutnya, siapa yang berhak mendapatkan Icha. Permainan itu bukan pertandingan yang seimbang sebetulnya, sebab Dedi pandai sekali menggertak, sedangkan wajah Ronald terlalu polos dan terbuka, dan Dedi selalu tahu kapan kartunya baik, kapan kartunya buruk. Tapi itu tidak penting sama sekali, karena tidak peduli siapa pun yang menang, Dedi tahu Icha tetap memilihnya.
TAMAT
Plaza Senayan (PS)
Gosip tentang Plaza Senayan (PS) sebagai salah satu tempat ngumpulnya para TG, ternyata kubuktikan sendiri di bulan Juni ini. Tepatnya tanggal 13 kemarin. Waktu itu aku lagi BT sama kuliah (aku kuliah di Fakultas Kedokteran swasta Jakarta) dan tidak tahu kenapa, aku memilih PS sebagai tempat nongkrongku.Setelah berputar-putar selama 1 jam, aku mau pulang. Tetapi sore itu Jakarta lagi diguyur hujan besar. Jadi, menurut perkiraanku pasti jalanan macet sekali. Percuma saja kalo kupulang jam 5 kayak gini. Kalo sampainya harus 2 jam. Lebih baik kupulang jam 6, toh ntar sampainya jam segitu juga. Akhirnya aku duduk di restchairs, tepat di depan ekskalator Lt. 2, dekat Bodyshop. Selama di situ, aku hanya bengong sambil melihat orang-orang lewat di depanku. Sampai tiba-tiba ada cewek duduk di sebelahku sambil membawa 2 plastic bag besar Metro.
Penampilannya 'Boljug', kayaknya sedikit lebih tua dariku. Yah... kutaksir sekitar 35-an deh. Cukup cantik, cocok jadi Model. Apalagi dengan dandanannya yang natural dan rambutnya yang tergerai indah sedada berwarna kecoklatan.., cakep sekali deh! Bodinya..? Heran bisa ngepas sama wajahnya, seksi banget. Pake Tank top bermotif Macan Tutul, yang kayaknya kekecilan buat dadanya, dan Hipster putih selutut. Buset dah..! Bikin pusing saja... (aku melihat lewat ekor mata. Tidak mungkin aku melotot langsung, bisa-bisa aku ditabok sama dia..)
Aku mikir, kira-kira siapa suaminya ya..? Lagi mikir gitu, eh... dia nepuk pundakku sambil bertanya, "Maaf ya, kalo Butik Absolute adanya di mana..?"
Aku berusaha menutupi kekagetanku dan berusaha menjawab sesantai mungkin, "Oh.., bukan di sini Mbak. Adanya di Jl. Mahakam, di Melawai sana."
"Oh, saya kira di sini.."
Itulah awal pembicaraan kami, sampai akhirnya kenalan dan ngobrol ngalur-ngidul. Namanya Tiana, umur 36 tahun (bener kan ?), rumah di Jl. HL (masih wilayah Senayan juga dong!), mantan pramugari yang bersuami seorang pilot. Kebetulan suaminya lagi tugas 2 minggu ke Frankfurt, jadi dia jalan-jalan sendirian. Belum punya anak, karena suaminya sering pergi.
"Kan susah jadinya kalo ditinggal terus." katanya.
Setelah ngobrol selama setengah jam, tiba-tiba dia bertanya, apa aku ada mobil dan dapat mengatarkan dia pulang. Soalnya dia malas pakai taxi, apalagi kalau lagi hujan gini. Duitnya bisa abis buat bayar kejebak macet saja. Karena kupikir sekalian aku pulang dan nantinya memang lewat jalan rumahnya, ya.. oke-oke saja. Emang sih, kondisi jalan sore itu parah banget. Heran, se-Jakarta bisa kompakan pulang bareng! Untung ada si mbak, jadi ada temen ngobrol deh!
Setelah hampir 30 menit bermacet-macetan, akhirnya sampai juga di rumahnya yang lumayan besar. Padahal aku baru melihatnya dari depan saja.
"Klakson aja..!" kata Mbak Tia, "Ntar ada yang bukain koq."
Benar..! Setelah ku-klason, seorang pembantu wanita tua berpayung membuka pintu pagar.
Sebelumnya, Mbak Tia sudah bilang, "Kalau ada pembantu saya, ngakunya kamu tukang service komputer, ya..?"
Karena masih hujan, mobil kumasukkan sampai pas di depan garasinya yang ber-Sunroof.
Sambil berakting layaknya customer, Mbak Tia memperkenalkan aku sebagai montir komputer pada pembantunya. Dan lalu menyuruhnya untuk masak-masak buat makan malam.
"Mari masuk..! Duduk-dudk saja dulu sebentar di dalem. Lalu kamu boleh pulang." katanya setelah pembantunya pergi ke dapur.
"Terima kasih kamu udah mau nganterin saya pulang."
"Ah.., nggak apa-apa Mbak. Saya juga kebetulan mau numpang ke kamar mandi."
"Oh, silakan! Tapi terpaksa yang di lantai atas, nih..! Yang di bawah lagi rusak."
Dengan membawa belanjaanya, Mbak Tia mengajakku ke atas.
"Yuk ke atas..!" katanya sambil berjalan di depanku.
Saat itu baru kuperhatikan. Ternyata CD-nya menyetak habis di Hipster-nya! G-string, man..!Huaa..! si Junior langsung berontak. Baru kali ini aku berhadapan langsung sama cewek pemakai G-string. Sambil berusaha senormal mungkin, aku mengikuti dia dari belakang. Sampai akhirnya tiba di kamar.
"Ayo masuk, jangan malu-malu..! Tuh kamar mandinya di sana.." katanya sambil menunjuk ke pintu di ujung kamar.
Aku langsung ke sana, dan ketika mau menutup pintu, Mbak Tia tiba-tiba memegang Handle pintu luar kamar mandi sambil berkata dengan genit, "Jangan lama-lama ya..!" Terus ditutup deh pintunya sama dia.
Lagi seru-serunya pipis, mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah benda panjang yang berada di balik botol-botol sabun. Ketika kuambil.., ternyata Dildo..! Tiruan Penis yang berwarna coklat muda..! Belum hilang rasa kagetku, sudah datang kejutan lagi. Karena pintunya tidak kukunci, secara diam-diam Mbak Tia masuk ke kamar mandi. Karena saat itu aku sedang kaget, tiba-tiba aku dipeluk dari belakang secara lembut. Tangan kiri Mbak Tia meraih tanganku yang lagi memegang Dildo, sedangkan tangan kanannya meremas junior-ku.
"Ini mainan saya, kalau lagi kesepian..." bisiknya tepat di telingaku.
Aku terdiam seperti patung, mungkin karena keenakan... kali ya.., hehehe.
"Tapi jauh lebih enak kalau pake yang asli.." desahnya.
Aku benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa ketika dia mulai menjilat leher sekitar telinga. Rasanya geli-geli enak dan aku benar-benar tersihir. Sambil terus menjilat dia berusaha membuka celanaku dari belakang.
"Hhh.., jangan Mbak..!" aku berusaha mengingatinya.
Tapi.., "Kenapa..? Hhhmmm slurp... slurp.., nggak suka ya..?" desisnya sambil tetap mencium dan menjilat leherku.
Akhirnya kupikir, bodo amat deh..!"Mmmbakk... hhh... dih.. ranjang aja deh.. biar lebih enak.." kataku.
Dia menuntunku keluar kamar mandi sampai di pinggir Bed, langsung memagut mulutku dengan ganas. Lidahnya meliuk-liuk mencari-cari lidahku, sementara tangannya kembali berusaha membuka celanaku. Aku yang sudah bodo amat, mendekap tubuhnya yang empuk. Hhmmpp.. benar-benar enak memeluk cewek bohay seperti dia.
Setelah celanaku melorot, ciumannya beralih ke leher, ke dada, perut, dan akhirnya ke penisku. Dia mengurut penisku pelan-pelan, wwooowww..! enak banget.
"Kamu tetap berdiri, ya Land... Jangan rebah..!" pintanya sambil tersenyum manis. Aku mengangguk saja.
"Kontol kamu... hh... kayaknya enak... hhh... hap..!"
Tiba-tiba dia langsung menghisap penisku, bahkan mengocok-ngocok di mulutnya.
Uihh, rasanya tidak dapat kutuliskan deh..! Enak banget.
"Hhmm... slurp... slurp..! Aahhh... slurp.. slurp..!"
Kadang-kadang dia sengaja mengguncang-guncang penisku ke kiri ke kanan dengan mulutnya, sementara kedua tangannya mengelus-elus pantat dan bijiku.
"Aahhh... jangan kenceng-kenceng, Mbak..!" kataku saat dia menghisap dengan bernafsu.
Dia hanya tersenyum, lalu meneruskan kegiatannya. Hisap.. lepas.. hisap.. lepas.., terus sampai akhirnya dia seperti kelelahan, tetapi tetap horny.
"Hmm..., kontol kamu enak.." katanya sambil menjilat bibirnya yang penuh lendir.
Kelihatan sekali dari sorot matanya yang liar kalau dia sudah sangat horny.
"Udah lama saya nggak ngisap kontol seenak ini."
"Mbak..."
"Jangan panggil saya Mbak.." desisnya sambil mencium bulu kemaluanku, "Panggil saya Tiaaa... aahh... sssttt.."
Kembali dia menjilat bulu kemaluanku dengan lidah meliuk-liuk seperti lidah ular. Kali ini jilatannya naik ke atas, sambil tangannya membuka T-shirt-ku. Aku juga tidak mau kalah, ikutan membuka Hipster dan Tanktop-nya. Dan Payudara itu.. kayaknya 36B, deh..! Nantang banget..!Walau saat itu masih memakai bra, tapi tidak bertahan lama, karena langsung dibuka sama dia. Jadi sekarang hanya sisa CD-nya, yang hanya tali saja.
Aku tidak menunggu lama-lama lagi, langsung ku-'mamam' payudara bulat itu. Awalnya yang kiri, dan yang kanan kuremas-remas. Tia mengerang dan menjatuhkan diri ke ranjang.
"Aahh... ssttt, ayyohhh... nenen yang kuat.. Say.. hhh.., iisshhaapp putingnya hhh.. hhh..!"
Aku dengan semangat menghisap sesuai perintahnya. Sesaat kugigit lembut putingnya.
"Aaahhh... ennakk..! Hhh... kenyot terus... ssstt.. yang.. kuathhh... aahhh..!" jeritnya sambil menggelinjang.
Rupanya arus kenikmatan mulai menerpa Tia. Tangan kananku mulai menjelajah vaginanya yang masih tertutup CD. Wah, sudah basah rupanya..! Apalagi saat jari tengahku menyelinap di antara Labia majora, kerasa sekali beceknya.
Pinggulnya mulai naik turun, rupanya Tia sadar ada benda asing yang menggesek kemaluannya. Apalagi saat jariku menyentuh klitorisnya, makin kencang goyangannya. Seakan berusaha agar jariku tetap di klitorisnya, tidak pindah kemana-mana.
Terbukti saat tangannya memegang tanganku yang ada di kemaluannya, "Jangan.. kemana-mana Say... hhh... sstt... gesek itilku... hhh..!" erangnya.
Sekarang ciumanku sudah pindah ke lehernya yang jenjang dan wangi. Vaginanya tetap dihibur dengan jariku, sementara tanganku yang lain membelai rambut indahnya.
"Udahhh... cukup maen jarinya... ssst..!" kata Tia.
Lalu dia menelentangkan aku dan dia ada di atasku. Dia langsung menempatkan lubang kemaluannya tepat di depan wajahku dan secara perlahan dia buka CD-nya yang seperti tali itu dengan membuka ikatan di sampingnya. Tercium semerbak wangi vagina yang benar-benar membuatku terangsang. Tampak tetesan lendir di lubang vaginanya. Benar-benar horny nih cewek..
"Hm.., wangi sekali Tia. Gue suka baunya.."
"Kamu suka bau memekku, Say..?"
"He eh..."
"Kalo gitu, cium deh..!" katanya sambil menurunkan vaginanya ke wajahku.
"Ayo cium, Say..! Hhh... cium.. cium... dijilat, Say.. hhh jilat.. jilat... JILAATT..!"
Padahal tanpa dikomando lagi aku sudah mau menjilat.
Kuhisap-hisap klitorisnya yang menyembul, kujilat vaginanya, perineumnya, anusnya, semuanya. Semua yang ada di sekitar kemaluannya kujilat dan kuhisap.
"Jilaatthhh teerruusshhh.. Say.. jillaathhh.. itilnyaahh... itilnyaahh... teeerruusshh... ittill.. itil..." desahnya.
Wajahku benar-benar dijadikan gosokan sama dia. Digosoknya terus kemaluannya di wajahku, kadang berputar-putar bak Lapdancer. Karena bosan di bawah terus, posisinya kuubah. Sekarang Tia di bawah, tapi tetap sambil kujilat vaginanya. Dia menggeliat-geliat, kadang menyentak ke belakang saat klit-nya kuhisap atau kujilat. Kadang mengerang, menjerit, melolong, bahkan kadang kepalaku dijepit dengan kedua pahanya yang putih mulus itu.
"Ah... ah... ah.. err.. rr.. Aaa.. Uhhh... uuhhh..." sampai akhirnya, "Ahh.. hhh.. I'm comin'.. Sayyhh.. I'm comin'.. Iihh.. Ihh..."
Kerasa sekali dia mau orgasme, karena badannya mulai mengejang.
"Tapi tidak akan segampang itu, Tia..! Loe bakal gue bikin penasaran..." kataku dalam hati.
Saat dia sudah hampir sampai, dia mulai menjerit-jerit.. dan... cepat-cepat kuhentikan jilatanku dan cepat-cepat berdiri di samping ranjang. Sambil tersenyum, aku asyik melihat tubuhnya yang seksi sedang menghentak-hentak, menanti kenikmatan. Dipadu dengan suara desahnya, benar-benar tontonan yang tidak ada duanya.
Tidak lama kemudian Tia tersadar kalau orgasmenya tidak akan sampai.
"Ahh... ahh.. hh... lho..? Lho..? Koq... Kenapa brenti..? Kenapa brentii..?" setengah menjerit, lalu celingukan mencariku.
Setelah melihatku ada di sampingnya sambil tersenyum manis, Tia benar-benar geram.
"Kamu.. Kamu... Bener-bener jahat..!"
Tia menyelipkan jari kirinya ke vaginanya, menjaga supaya tetap horny rupanya.
"Roland.., kamu bener-bener jahat..!" jeritnya.
Untung diluar masih hujan besar. Jadi jeritannya tertutup dengan suara hujan.
"Sini..! Kesini..!"
Sambil tertawa kecil aku bukannya memdeketi, tapi malah menjauh. Tia jadi seperti orang penasaran. Dengan meraung seperti macan dia melompat dari ranjang, berusaha menerkamku. Tapi gagal, karena aku berhasil berkelit. Sambil tertawa, aku berusaha menghindar dari sergapannya yang dipenuhi hawa nafsu.
"Jahat..! Jahat..! Jahat..!" jeritnya sambil berusaha mengejarku.
Kami berdua seperti anak kecil yang lagi main kejar-kejaran.
Hingga akhirnya aku pura-pura mengalah dan bersedia ditangkap. Aku langsung duduk di sofa single, di samping ranjangnya. Dan dia menangkapku di situ. Tanpa ba-bi-bu lagi, Tia langsung duduk berhadapan di pahaku. Bulu kemaluannya terasa lembut menyentuh pahaku, sedangkan batang kemaluanku merapat di perutnya.
"Mau lari kemana, hah..? hhh..!" katanya sambil menggesek-gesekkan puting susunya ke putingku, rasanya nikmat sekali.
"Orang lagi mau ngecret koq dikerjain... hhh..? Nggak boleh, tau..!" omelnya sambil menatap tajam.
Pura-pura.., "Ya..deh, gue salah..." kataku.
Lalu kupagut bibirnya yang basah itu. Langsung dibalas dengan ganas. Tia memelukku dengan erat sambil menggesek naik turun kemaluannya ke penisku.
Kemudian dia menghentikan pagutannya, lalu tersenyum licik.
"Buat orang kaya kamu, ada hukumannya.. sss..."
"Apaan..?" tantangku.
"Hukumannya.." Tia meraih batang kejantananku dan langsung dimasukkan ke vaginanya, "Ngentot sampai aku puaaass... hhh..!"
Begitu kalimat itu berakhir, Tia langsung menggenjot penisku naik turun.
Aduh, benar-benar vagina yang luar biasa. Begitu ketat mencengkeram. Sementara itu, di depan wajahku terpampang payudara besar yang terguncang-guncang. Seakan memohon untuk dihisap.
"Ahh... uh.., kontolhh kamuhh... enak ssstt ahh.. ssst.. ahh.." desahnya sambil naik turun.
Aku tidak dapat menjawab, soalnya lagi asyik menenen. Tanganku mengelus-elus sekitar pantat sampai belakang vaginanya, biar dia benar-benar puas.
"Ah.. ah.. terus..! Jangan berhenti Say..! Aku suka ngentot sama kamu.. hhh enak... Ayoh... nenen yang kuat.. nenen.. nene.. aahhh..!" jeritnya.
Kadang kusentak juga dari bawah, dan Tia senang sekali kalau sudah begitu.
"Sentak lagi... sentak lagi... Aaa..! Iya.. iya.. gitu.. lagi..! Lagiii..! Itil gue.. itil gue... Ooohhh..!"
Lagi asyik-asyiknya dia menggenjot penisku, tiba-tiba kuberdiri sambil membopongnya. Lalu aku jalan-jalan keliling kamar sambil tetap dia mengocok penisku dengan vaginanya yang luar biasa. Sebagai ganti sentakan yang dia suka, aku jalannya kadang seperti orang melompat. Kan jadi sama nyentaknya. Tapi itu tidak dapat lama-lama, karena badannya lumayan berat. Jadi aku balik ke ranjang.
"Kamu di bawah ya, Say..! Aku suka di atas... sss.." desisnya manja.
"Oche.., buat Tia.. apa aja deh..!" godaku.
Tanpa banyak buang waktu, Tia kembali melanjutkan goyangannya. Kadang goyangnya benar-benar maut, sampai menyentak kepalanya ke belakang. Atau kadang sambil meremas payudaranya, seperti di film-film BF. Atau kalau lagi adem, dia merebahkan kepalanya di dadaku. Sambil mengocok, seperti biasa dia suka sekali berkata kotor.
"Hhmm.., ngentot..! Hmm.., ngentot..! Ahh.. hh.. sstt.. Tia seneng deh kalo lagi ngentot.. hhhh... Enak kan, Say..?"
"Enakhhh.. banget, Tia.." lenguhku.
"Seneng khaann... ssstt..!"
"Seneng..."
"Tia... sukka.. kontol Roland... hhh..."
5 menit kemudian, aku merasa akan jebol, karena penisku sudah berdenyut. Rupanya Tia juga begitu. Dinding vaginanya mulai bergetar dan sudah basah sekali. Genjotannya pun sudah mulai mengganas, seperti saat dia mau orgasme tadi.
"Oohh... Tia... gue mau.. keluar..."
"Aku.. juga Say.. Mau ngecret.. hhh mau ngecret.. tahan yah.., kita barengan... ss..!"
Aku berusaha supaya tidak jebol duluan, kutahan mati-matian. Tia sudah semakin tegang, makin erat memelukku.
"Auh..! Auh..! I'm comin' Say..! I'm comin' Say..! Aadduhh... Kontol.. Jembut.. itil... ah.. ah..!" jeritnya, makin lama makin keras.
Dan, "Terusshh.., terusshhh... don't stop..! Don't stop..! Aku.. Aku.. Ak.. iihh.. iihh.."
Dia orgasme sambil menjerit dan menghentak-hentak dengan ganasnya. Saat orgasme, otot vaginanya betul-betul tegang dan memerah batang penisku.
"Tia... Tia... ahh awas... gue mau keluar..!"
"Biar..! Biar..! Di dalam aja... jangan dilepasss... Aaa..!"
"Crot.. crot.. crot..!" spermaku muncrat di dalam vaginanya.
Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi, hanya bisa menerawang ke langit-langit. Menikmati orgasme. Masih ada beberapa hentakan lagi, sebelum akhirnya Tia terkulai lemas di dadaku. Rambutnya yang indah itu menghampar bebas, langsung kubelai.
"Terima kasih, Land..! Saya udah lama nggak ngerasain yang kayak gini." dia mendesah.
"Meski kamu jarang ngomong, tapi cara kamu enak banget."
Aku hanya dapat tersenyum saja.
Kemudian kami ke kamar mandi untuk saling membersihkan diri dan ada sedikit 1 ronde lagi yang kami mainkan di sana dengan cepat. Terus aku siap-siap untuk pulang.
"Nanti kutelepon ke Hp kamu ya.." katanya mengiringi kepulanganku.
Dan... maaf, aku baru terima SMS dari Tia. Dia minta ketemu besok siang di PS, karena suaminya sudah berangkat tugas lagi. Ketemu di 21 katanya, sambil menemani 'Nomat' Enemy at the Gates. Hmmmm, temuin nggak ya..?
TAMAT
True Story
Juni 2001
Namaku Cindy, seoarang wanita keturunan, berusia 27 tahun dan aku memiliki seorang anak dari suami yang sangat kusayangi. Akan tetapi ada satu sifat dari diriku yang tidak dapat kukendalikan, aku merasa bahwa aku tidak dapat hidup dan bercinta hanya dengan satu laki-laki, aku senang menggoda dan bercinta dengan laki-laki yang kuanggap menarik, dan setelah itu meninggalkannya untuk kembali pada suamiku.
Agustus 1989
Dari SMP aku sudah mulai merasakan kejanggalan ini, dan yang mendukung sifatku ini adalah aku selalu dikelilingi oleh laki-laki yang menarik. Pertama kali aku melakukan masturbasi adalah sewaktu aku berusia 13 tahun, aku suka memainkan puting buah dadaku dan klitorisku sambil berimajinasi merasakan nikmatnya bercinta. Dan dari masturbasi seperti ini, aku mendapatkan kepuasan yang membuatku mencapai orgasme.
Pacar pertamaku waktu aku berusia 15 tahun adalah Rio, dia lebih tua 5 tahun dari aku, dia sudah cukup berpengalaman dalam hal seks, karena dia tahu aku suka berfantasi, maka dia sering mencium dan mengulum bibirku dengan penuh birahi. Apabila kebetulan orangtuaku sedang pergi, kami sering melakukan oral seks di kamarku atau di ruang tengah.
Aku paling terangsang bila dia melumat putingku, menjilatinya sampai basah dan tangan satunya memainkan klitorisku. Karena aku terangsang, maka kuberanikan diri untuk memegang penisnya. Kurasakan benda itu semakin mengeras dan mengeras. Kumasukkan tanganku ke dalam celananya, kubelai buah zakarnya, pangkal penis dan kepalanya. Dia mengerang, ujung kepala penisnya terasabasah, kumainkan dengan jari telunjukku, dia semakin kencang mengulum putingku, dan aku pun mendesah nikmat. Kemaluanku mulai berdenyut-denyut, cairan nikmat itu semakin banyak keluar dan aku semakin tidak tahan.
Kudorong badan Rio sehingga posisiku berada di atasnya, kutarik celananya dan kelihatanlah penisnya yang keras, tegak menantang. Aku belum pernah melihat penis sebelumnya, oleh karena itu aku cukup kaget, tetapi nafsuku untuk mengulum penis Rio lebih besar daripada rasa kagetku. Kupegang pelan batang penisnya, tanganku naik turun perlahan mengikuti irama erangan Rio,kubelai dan kuciumi hingga puas. Rio menggelinjang keenakan. Kujilat dari pangkal ke atas, kukulum dan kusedot-sedot perlahan, kumainkan dengan lidahku, kugigit perlahan, erangan Rio semakin menjadi-jadi.
"Shhh.., Rio nggak tahan lagi, Cindy.. Rio mau keluar..!" katanya waktu itu.
Aku tidak dapat menjawab, karena mulutku sedang mengulum batang penisnya, aku hanya mendesah, menjilat, menggigit dan menyedot. Kemaluanku kembali berdenyut-denyut. Sambil mengulum penis Rio, kumainkan puting buah dadaku bergantian dengan klitorisku. Aku pun sudah hampir mencapai orgasme, kugeser posisi tubuhku hingga membentuk posisi 69, dan Rio dengan cepatnya mejilatserta mengulum vaginaku.
"Ahhh.., Cindy... Keluarkan punyamu Sayang... Aku sudah nggak bisa nahan lebih lama lagi, aku mau keluaaarr... Ouch... ahhh... ahh.. ahh..!" erangan Rio dan eranganku semakin kencang dan menyemburlah air mani dari penisnya di dalam mulutku.
Aku masih mengulum, menyedot dan menjilat sisa-sisa air maninya, penis Rio berdenyut-denyut dan setiap kali kusedot, dia menggelinjang. Rio juga mejilat-jilat kemaluanku dan mengulumnya.
"Ohhh.., it feels so goood..." batinku saat itu.
Aku pun tergeletak di samping Rio sambil masih memainkan putingku yang basah terkena cairan maninya, rasanya putingku masih mengeras dan masih minta untuk dikulum dan dihisap, kemaluanku pun masih berdenyut-denyut, rasanya masih ada yang mengganjal meminta untuk dilampiaskan. Akhirnya dalam posisi telentang, tangan kananku kumainkan di kemaluanku dan tangan kiriku memilin-milin putingku, kugesek-gesek dan kutekan tangan kananku di kemaluanku semakin cepat dan cepat sambil memejamkan mata dan membayangkan penis di dalam vaginaku.
Rio yang dari tadi memperhatikanku mulai beringsut mendekatiku dan berbisik, "Mau aku bantu sayang..? Biar kamu dapat kepuasan lebih..?"
Aku hanya mendesah mengiyakan dan mulai menjerit kecil saat Rio menggigit pelan putingku, dimainkannya satu persatu. Dihisap pelan, dimainkan dengan lidah, digigit, dijilat sampai akhirnya kemaluanku bertambah basah dan ada sesuatu yang mendesak ingin mencapai puncak kenikmatan. Tubuhku mengejang dan Rio semakin liar meremas kuat payudaraku. Aku terkulai dan tercapai sudah keinginanku untuk mendapatkan multi orgasme.
Dua tahun kemudian.
Saat ini aku sudah putus dengan Rio dan aku mempunyai seorang pacar yang usianya jauh lebih tua dari aku, 9 tahun bedanya. Menurutku dia seorang laki-laki yang cukup berpengalaman, terutama dalam hal seks, akan tetapi dia menganggapku anak kecil yang sama sekali belum mengerti tentang nikmatnya seks. Walaupun aku masih tetap perawan (dengan Rio aku hanya melakukan oral), tetapiaku benar-benar ingin merasakan nikmatnya berhubungan badan. Namanya Donnie, aku sangat menyukai tangannya yang kekar dan pantatnya yang bulat berisi, entah mengapa, aku selalu terangsang apabila melihat tangan yang kekar dan pantat yang berisi. Aku ingin sekali dia menyetubuhiku, dan aku berpikir bagaimana caranya dia tergoda olehku.
Waktu itu hari Minggu, dan kedua orangtuaku sedang bepergian ke luar kota. Aku tinggal di rumah hanya dengan pembantuku. Aku baru saja bangun tidur waktu kudengar pembantuku menerima telpon dari Donnie, dan Donnie mengatakan bahwa dia akan tiba di rumahku 10 menit lagi. Mungkin karena sudah beberapa hari ini produksi hormonku meningkat, aku merasa terus-menerus terangsang dan bernafsu sekali. Kuambil baju tidurku bewarna hitam yang berupa tank top dengan belahan dada rendah dan transparan, sehingga memperlihatkan payudaraku yang montok dan kenyal, putingku yang mengeras menonjol keluar seperti sedang mempersiapkan diri untuk dikulum. Kuganti celana dalamku dengan g-string warna hitam senada dengan atasannya. Kuoleskan sedikit parfum kesukaan Donnie di belakang telinga dan belahan dadaku.
Aku berpesan kepada pembantuku, apabila Donnie datang, suruh saja langsung masuk ke kamarku, karena aku agak sedikit pusing. Aku kembali berbaring di atas tempat tidur, menutup kembali selimutku dan berpura-pura tidur sambil menunggu kedatangan Donnie. Tidak lama kemudian dia datang. Setelah pembantuku menyampaikan pesanku, kudengar perlahan-lahan dia masuk ke dalam kamarku. Bau harum menyegarkan dan merangsang datang dari tubuhnya, dia duduk di pinggir ranjang sambil membelai kepalaku dan membisikkan sesuatu di telingaku.
"Hi, Honey.. Kata bibi kamu sakit..? Pusing kenapa Sayang..?" katanya pelan dan manis sekali.
Aku menggelinjang dan membalikkan tubuhku menghadap dia. Sekilas sempat kulihat dia menelan ludah karena pahanya tersenggol oleh payudaraku, kusandarkan kepalaku di pahanya dan kutarik sedikit selimutku ke bawah, sehingga dia dapat melihat jelas gundukan dua bukit putih dan kenyal milikku. Kupeluk pinggangnya sehingga posisi wajahku menghadap ke perut dan kemaluannya, lalu kemudian aku bangkit dan duduk di pangkuannya.
Kupeluk lehernya, kubisikkan di telinganya dengan desahan nafasku yang hangat, "Aku pusing karena kamu nggak dateng-dateng.."
Donnie membalas pelukanku dengan erat, diciuminya pundak dan leherku sambil berbisik, "Mmmh, kamu sexy sekali, baumu sungguh merangsang, kamu tau aku paling nggak bisa tahan kalo kamu pake parfum ini.. Nanti kalo aku nggak tahan gimana..?"
Aku mengeratkan pelukanku dan menempelkan payudaraku ke dadanya sambil kugesek-gesekkan, kucium belakang telinganya, kujilat lehernya.
"Kalo nggak tahan, ya dikeluarin ajaaa... aaahhh..!"
Aku mengubah posisiku menjadi menghadap ke arahnya dengan kedua kakiku menjepit pinggulnya. Kuremas rambutnya yang hitam, semerbak wangi kelelakiannya membuat kemaluanku berdenyut-denyut. Donnie mengangkatku dan menidurkanku di atas ranjang, dia menciumi dadaku, membuka tali tank top-ku dengan mulutnya satu persatu, menyembullah payudaraku. Dia mulai menghisap dan menjilat putingku, sementara tangan yang satunya meremas payudaraku yang satunya.
"Ouch.., Donnie... aku paling terangsang kalo putingku dikerjain, aku bisa lakukan apa saya yang kamu minta, asal jangan berhenti menjilat dan menghisap putingku.. Ahhh... Sssshh..!"
Donnie semakin bernafsu mendengar kata-kata dan eranganku, kemaluannya sudah mulai mendesak dari celananya, kurasakan hal itu dan aku pun tidak tahan untuk tidak memegang kemaluannya. Kubuka resleting celananya dan kumasukkan tanganku ke dalamnya, kurasakan cairan hangat di ujung kepala penisnya dan hangat batangnya, dia mengerang nikmat sambil menggigit puting payudaraku. Setelah itu dia menciumi seluruh tubuhku hingga aku terangsang hebat.
Dia memang sangat berpengalaman dalam hal ini, setelah itu aku berpindah ke depan kemaluannya dan mulailah aku melakukan aksiku membuat lelaki tergila-gila. Kucium ujung penisnya, kujilat cairan yang terasa gurih, kumasukkan kepala penisnya ke dalam mulutku, kuhisap-hisap dan kumainkan dengan lidahku. Donnie masih meremas dan memilin-milin putingku sambil mengerang nikmat, kumasukkan lagi penisnya lebih dalam ke dalam mulutku sambil kukocok-kocok dengan mulutku naik turun. Pertama perlahan, semakin lama semakin cepat. Donnie semakin kuat meremas payudaraku dan kemudian dia menarikku ke atas tubuhnya.
Donnie melepas celana dalamku dan aku duduk di atas kemaluannya, kugesek-gesekkan vaginaku di atas penisnya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku dan meremas serta memainkan putingku. Aku mengerang, dan Donnie tampaknya sudah sangat terangsang oleh gerakan tubuhku. Dia duduk dan diangkatnya aku hingga penisnya berdiri dan siap menusuk ke liang kemaluanku.
Aku memeluknya dan membisikkan, "Honey, I'm still virgin, so do it smoothly, because I want to feel the excitement..."
"Sure, sweetheart.. I'll do this very, very gently so you won't forget this moment.."
Perlahan dia mulai memasukkan batang penisnya, terasa sempit sekali dan terasa panas, akan tetapi karena didorong oleh nafsuku yang sudah tidak tertahankan dan Donnie melakukannya dengan sangat berhati-hati, lama kelamaan seluruh batang penisnya telah masuk ke dalam liang vaginaku dan terasa nikmat sekali. Ouch.., Donnie mulai menggerak-gerakkan pantatnya yang sexy dan aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku. Cairan yang keluar dari kemaluanku memang sangat membantu, terasa sempit, menjepit namun tidak sakit. Donnie semakin cepat menggerakkan penisnya, maju dan mundur. Aahhh, rasanya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, terlalu nikmat untuk diucapkan. Peluh membasahi kedua tubuh kami, hawa dingin yang keluar dari AC sudah tidak dapat mendinginkan kami yang sedang dibakar gairah.
Sambil menggoyangkan tubuhnya, Donnie kembali menghisap puting payudaraku dan membuatku gila. Rasanya aku tidak ingin dia melepaskan hisapannya. Kupeluk dia dan kujilat lehernya, kukulum bibirnya sambil mengerang nikmat.
Donnie membisikkan sesuatu padaku, "Rubah posisi yuk, sayang... Aku yakin dengan posisi ini kamu bakalan ketagihan make love.."
Donnie kemudian mengangkat dan memutar tubuhku, sehingga aku membelakanginya, dia melakukan dogie style yang pada saat itu aku belum pernah membayangkan sampai kesitu.
Donnie kembali memasukkan batang penisnya ke vaginaku dan maju mundur, dari perlahan hingga semakin cepat. Pengalamanku kali ini luar biasa, belum pernah aku merasakan kenikmatan yang seperti ini. Memang betul kata Donnie, ini akan membuatku ketagihan. Semakin cepat Donniemenggerakkannya, semakin aku terangsang dan merasakan sesuatu kenikmatan luar biasa yang berbeda dengan yang kurasakan pada waktu masturbasi maupun oral.
Donnie memelukku dari belakang, meremas payudaraku dan membisikkan, "Ahhh... aku mau keluar... kamu luar biasa, kamu bisa membuat aku begitu terangsang dan aku nggak mau kehilangan kamu.. ahh.. ahh.. ahh.."
Bersamaan dengan keluarnya mani Donnie, aku pun merasakan yang sama, cairan hangat milik Donnie membasahi vaginaku. Bau khas kejantanan itu menyetuh penciumanku. Aku mengatakan bahwa aku tidak menyesal melakukan hal ini, karena ini timbul dari keinginanku, tetapi Donnie mengatakan berulang kali bahwa dia tidak mau kehilangan diriku.
Setahun kemudian.
Aku berpisah dengan Donnie, karena aku tertarik dengan lelaki lain. Aku tidak mau menghianati Donnie dengan melakukan affair, oleh karena itu kuputuskan Donnie. Apabila Anda tertarik untuk mengikuti pengalaman saya selanjutnya, stay tune di ceritaasmaradewasa.blogspot.com
Namaku Cindy, seoarang wanita keturunan, berusia 27 tahun dan aku memiliki seorang anak dari suami yang sangat kusayangi. Akan tetapi ada satu sifat dari diriku yang tidak dapat kukendalikan, aku merasa bahwa aku tidak dapat hidup dan bercinta hanya dengan satu laki-laki, aku senang menggoda dan bercinta dengan laki-laki yang kuanggap menarik, dan setelah itu meninggalkannya untuk kembali pada suamiku.
Agustus 1989
Dari SMP aku sudah mulai merasakan kejanggalan ini, dan yang mendukung sifatku ini adalah aku selalu dikelilingi oleh laki-laki yang menarik. Pertama kali aku melakukan masturbasi adalah sewaktu aku berusia 13 tahun, aku suka memainkan puting buah dadaku dan klitorisku sambil berimajinasi merasakan nikmatnya bercinta. Dan dari masturbasi seperti ini, aku mendapatkan kepuasan yang membuatku mencapai orgasme.
Pacar pertamaku waktu aku berusia 15 tahun adalah Rio, dia lebih tua 5 tahun dari aku, dia sudah cukup berpengalaman dalam hal seks, karena dia tahu aku suka berfantasi, maka dia sering mencium dan mengulum bibirku dengan penuh birahi. Apabila kebetulan orangtuaku sedang pergi, kami sering melakukan oral seks di kamarku atau di ruang tengah.
Aku paling terangsang bila dia melumat putingku, menjilatinya sampai basah dan tangan satunya memainkan klitorisku. Karena aku terangsang, maka kuberanikan diri untuk memegang penisnya. Kurasakan benda itu semakin mengeras dan mengeras. Kumasukkan tanganku ke dalam celananya, kubelai buah zakarnya, pangkal penis dan kepalanya. Dia mengerang, ujung kepala penisnya terasabasah, kumainkan dengan jari telunjukku, dia semakin kencang mengulum putingku, dan aku pun mendesah nikmat. Kemaluanku mulai berdenyut-denyut, cairan nikmat itu semakin banyak keluar dan aku semakin tidak tahan.
Kudorong badan Rio sehingga posisiku berada di atasnya, kutarik celananya dan kelihatanlah penisnya yang keras, tegak menantang. Aku belum pernah melihat penis sebelumnya, oleh karena itu aku cukup kaget, tetapi nafsuku untuk mengulum penis Rio lebih besar daripada rasa kagetku. Kupegang pelan batang penisnya, tanganku naik turun perlahan mengikuti irama erangan Rio,kubelai dan kuciumi hingga puas. Rio menggelinjang keenakan. Kujilat dari pangkal ke atas, kukulum dan kusedot-sedot perlahan, kumainkan dengan lidahku, kugigit perlahan, erangan Rio semakin menjadi-jadi.
"Shhh.., Rio nggak tahan lagi, Cindy.. Rio mau keluar..!" katanya waktu itu.
Aku tidak dapat menjawab, karena mulutku sedang mengulum batang penisnya, aku hanya mendesah, menjilat, menggigit dan menyedot. Kemaluanku kembali berdenyut-denyut. Sambil mengulum penis Rio, kumainkan puting buah dadaku bergantian dengan klitorisku. Aku pun sudah hampir mencapai orgasme, kugeser posisi tubuhku hingga membentuk posisi 69, dan Rio dengan cepatnya mejilatserta mengulum vaginaku.
"Ahhh.., Cindy... Keluarkan punyamu Sayang... Aku sudah nggak bisa nahan lebih lama lagi, aku mau keluaaarr... Ouch... ahhh... ahh.. ahh..!" erangan Rio dan eranganku semakin kencang dan menyemburlah air mani dari penisnya di dalam mulutku.
Aku masih mengulum, menyedot dan menjilat sisa-sisa air maninya, penis Rio berdenyut-denyut dan setiap kali kusedot, dia menggelinjang. Rio juga mejilat-jilat kemaluanku dan mengulumnya.
"Ohhh.., it feels so goood..." batinku saat itu.
Aku pun tergeletak di samping Rio sambil masih memainkan putingku yang basah terkena cairan maninya, rasanya putingku masih mengeras dan masih minta untuk dikulum dan dihisap, kemaluanku pun masih berdenyut-denyut, rasanya masih ada yang mengganjal meminta untuk dilampiaskan. Akhirnya dalam posisi telentang, tangan kananku kumainkan di kemaluanku dan tangan kiriku memilin-milin putingku, kugesek-gesek dan kutekan tangan kananku di kemaluanku semakin cepat dan cepat sambil memejamkan mata dan membayangkan penis di dalam vaginaku.
Rio yang dari tadi memperhatikanku mulai beringsut mendekatiku dan berbisik, "Mau aku bantu sayang..? Biar kamu dapat kepuasan lebih..?"
Aku hanya mendesah mengiyakan dan mulai menjerit kecil saat Rio menggigit pelan putingku, dimainkannya satu persatu. Dihisap pelan, dimainkan dengan lidah, digigit, dijilat sampai akhirnya kemaluanku bertambah basah dan ada sesuatu yang mendesak ingin mencapai puncak kenikmatan. Tubuhku mengejang dan Rio semakin liar meremas kuat payudaraku. Aku terkulai dan tercapai sudah keinginanku untuk mendapatkan multi orgasme.
Dua tahun kemudian.
Saat ini aku sudah putus dengan Rio dan aku mempunyai seorang pacar yang usianya jauh lebih tua dari aku, 9 tahun bedanya. Menurutku dia seorang laki-laki yang cukup berpengalaman, terutama dalam hal seks, akan tetapi dia menganggapku anak kecil yang sama sekali belum mengerti tentang nikmatnya seks. Walaupun aku masih tetap perawan (dengan Rio aku hanya melakukan oral), tetapiaku benar-benar ingin merasakan nikmatnya berhubungan badan. Namanya Donnie, aku sangat menyukai tangannya yang kekar dan pantatnya yang bulat berisi, entah mengapa, aku selalu terangsang apabila melihat tangan yang kekar dan pantat yang berisi. Aku ingin sekali dia menyetubuhiku, dan aku berpikir bagaimana caranya dia tergoda olehku.
Waktu itu hari Minggu, dan kedua orangtuaku sedang bepergian ke luar kota. Aku tinggal di rumah hanya dengan pembantuku. Aku baru saja bangun tidur waktu kudengar pembantuku menerima telpon dari Donnie, dan Donnie mengatakan bahwa dia akan tiba di rumahku 10 menit lagi. Mungkin karena sudah beberapa hari ini produksi hormonku meningkat, aku merasa terus-menerus terangsang dan bernafsu sekali. Kuambil baju tidurku bewarna hitam yang berupa tank top dengan belahan dada rendah dan transparan, sehingga memperlihatkan payudaraku yang montok dan kenyal, putingku yang mengeras menonjol keluar seperti sedang mempersiapkan diri untuk dikulum. Kuganti celana dalamku dengan g-string warna hitam senada dengan atasannya. Kuoleskan sedikit parfum kesukaan Donnie di belakang telinga dan belahan dadaku.
Aku berpesan kepada pembantuku, apabila Donnie datang, suruh saja langsung masuk ke kamarku, karena aku agak sedikit pusing. Aku kembali berbaring di atas tempat tidur, menutup kembali selimutku dan berpura-pura tidur sambil menunggu kedatangan Donnie. Tidak lama kemudian dia datang. Setelah pembantuku menyampaikan pesanku, kudengar perlahan-lahan dia masuk ke dalam kamarku. Bau harum menyegarkan dan merangsang datang dari tubuhnya, dia duduk di pinggir ranjang sambil membelai kepalaku dan membisikkan sesuatu di telingaku.
"Hi, Honey.. Kata bibi kamu sakit..? Pusing kenapa Sayang..?" katanya pelan dan manis sekali.
Aku menggelinjang dan membalikkan tubuhku menghadap dia. Sekilas sempat kulihat dia menelan ludah karena pahanya tersenggol oleh payudaraku, kusandarkan kepalaku di pahanya dan kutarik sedikit selimutku ke bawah, sehingga dia dapat melihat jelas gundukan dua bukit putih dan kenyal milikku. Kupeluk pinggangnya sehingga posisi wajahku menghadap ke perut dan kemaluannya, lalu kemudian aku bangkit dan duduk di pangkuannya.
Kupeluk lehernya, kubisikkan di telinganya dengan desahan nafasku yang hangat, "Aku pusing karena kamu nggak dateng-dateng.."
Donnie membalas pelukanku dengan erat, diciuminya pundak dan leherku sambil berbisik, "Mmmh, kamu sexy sekali, baumu sungguh merangsang, kamu tau aku paling nggak bisa tahan kalo kamu pake parfum ini.. Nanti kalo aku nggak tahan gimana..?"
Aku mengeratkan pelukanku dan menempelkan payudaraku ke dadanya sambil kugesek-gesekkan, kucium belakang telinganya, kujilat lehernya.
"Kalo nggak tahan, ya dikeluarin ajaaa... aaahhh..!"
Aku mengubah posisiku menjadi menghadap ke arahnya dengan kedua kakiku menjepit pinggulnya. Kuremas rambutnya yang hitam, semerbak wangi kelelakiannya membuat kemaluanku berdenyut-denyut. Donnie mengangkatku dan menidurkanku di atas ranjang, dia menciumi dadaku, membuka tali tank top-ku dengan mulutnya satu persatu, menyembullah payudaraku. Dia mulai menghisap dan menjilat putingku, sementara tangan yang satunya meremas payudaraku yang satunya.
"Ouch.., Donnie... aku paling terangsang kalo putingku dikerjain, aku bisa lakukan apa saya yang kamu minta, asal jangan berhenti menjilat dan menghisap putingku.. Ahhh... Sssshh..!"
Donnie semakin bernafsu mendengar kata-kata dan eranganku, kemaluannya sudah mulai mendesak dari celananya, kurasakan hal itu dan aku pun tidak tahan untuk tidak memegang kemaluannya. Kubuka resleting celananya dan kumasukkan tanganku ke dalamnya, kurasakan cairan hangat di ujung kepala penisnya dan hangat batangnya, dia mengerang nikmat sambil menggigit puting payudaraku. Setelah itu dia menciumi seluruh tubuhku hingga aku terangsang hebat.
Dia memang sangat berpengalaman dalam hal ini, setelah itu aku berpindah ke depan kemaluannya dan mulailah aku melakukan aksiku membuat lelaki tergila-gila. Kucium ujung penisnya, kujilat cairan yang terasa gurih, kumasukkan kepala penisnya ke dalam mulutku, kuhisap-hisap dan kumainkan dengan lidahku. Donnie masih meremas dan memilin-milin putingku sambil mengerang nikmat, kumasukkan lagi penisnya lebih dalam ke dalam mulutku sambil kukocok-kocok dengan mulutku naik turun. Pertama perlahan, semakin lama semakin cepat. Donnie semakin kuat meremas payudaraku dan kemudian dia menarikku ke atas tubuhnya.
Donnie melepas celana dalamku dan aku duduk di atas kemaluannya, kugesek-gesekkan vaginaku di atas penisnya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku dan meremas serta memainkan putingku. Aku mengerang, dan Donnie tampaknya sudah sangat terangsang oleh gerakan tubuhku. Dia duduk dan diangkatnya aku hingga penisnya berdiri dan siap menusuk ke liang kemaluanku.
Aku memeluknya dan membisikkan, "Honey, I'm still virgin, so do it smoothly, because I want to feel the excitement..."
"Sure, sweetheart.. I'll do this very, very gently so you won't forget this moment.."
Perlahan dia mulai memasukkan batang penisnya, terasa sempit sekali dan terasa panas, akan tetapi karena didorong oleh nafsuku yang sudah tidak tertahankan dan Donnie melakukannya dengan sangat berhati-hati, lama kelamaan seluruh batang penisnya telah masuk ke dalam liang vaginaku dan terasa nikmat sekali. Ouch.., Donnie mulai menggerak-gerakkan pantatnya yang sexy dan aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku. Cairan yang keluar dari kemaluanku memang sangat membantu, terasa sempit, menjepit namun tidak sakit. Donnie semakin cepat menggerakkan penisnya, maju dan mundur. Aahhh, rasanya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, terlalu nikmat untuk diucapkan. Peluh membasahi kedua tubuh kami, hawa dingin yang keluar dari AC sudah tidak dapat mendinginkan kami yang sedang dibakar gairah.
Sambil menggoyangkan tubuhnya, Donnie kembali menghisap puting payudaraku dan membuatku gila. Rasanya aku tidak ingin dia melepaskan hisapannya. Kupeluk dia dan kujilat lehernya, kukulum bibirnya sambil mengerang nikmat.
Donnie membisikkan sesuatu padaku, "Rubah posisi yuk, sayang... Aku yakin dengan posisi ini kamu bakalan ketagihan make love.."
Donnie kemudian mengangkat dan memutar tubuhku, sehingga aku membelakanginya, dia melakukan dogie style yang pada saat itu aku belum pernah membayangkan sampai kesitu.
Donnie kembali memasukkan batang penisnya ke vaginaku dan maju mundur, dari perlahan hingga semakin cepat. Pengalamanku kali ini luar biasa, belum pernah aku merasakan kenikmatan yang seperti ini. Memang betul kata Donnie, ini akan membuatku ketagihan. Semakin cepat Donniemenggerakkannya, semakin aku terangsang dan merasakan sesuatu kenikmatan luar biasa yang berbeda dengan yang kurasakan pada waktu masturbasi maupun oral.
Donnie memelukku dari belakang, meremas payudaraku dan membisikkan, "Ahhh... aku mau keluar... kamu luar biasa, kamu bisa membuat aku begitu terangsang dan aku nggak mau kehilangan kamu.. ahh.. ahh.. ahh.."
Bersamaan dengan keluarnya mani Donnie, aku pun merasakan yang sama, cairan hangat milik Donnie membasahi vaginaku. Bau khas kejantanan itu menyetuh penciumanku. Aku mengatakan bahwa aku tidak menyesal melakukan hal ini, karena ini timbul dari keinginanku, tetapi Donnie mengatakan berulang kali bahwa dia tidak mau kehilangan diriku.
Setahun kemudian.
Aku berpisah dengan Donnie, karena aku tertarik dengan lelaki lain. Aku tidak mau menghianati Donnie dengan melakukan affair, oleh karena itu kuputuskan Donnie. Apabila Anda tertarik untuk mengikuti pengalaman saya selanjutnya, stay tune di ceritaasmaradewasa.blogspot.com
Sabtu, 07 April 2012
Tanteku baik sekali
Ini adalah sebuah kisah s*ks atau cerita dewasa tante hot yang menarik untuk anda baca! Nama saya Dodi. Sekarang saya masih kuliah di Universitas dan Fakultas paling favorit di Yogyakarta. Saya ingin menceritakan pengalaman saya pertama kali berkenalan dengan permainan s*ks yang mungkin membuat saya sekarang haus akan s*ks.





05.14
cerita asmara dewasa






